Hubungan Filsafat dengan Etika
A. Pengertian Ilmu Filsafat
Banyak pendapat mengenain pengertian filsafat. Perbedaan sudut pandang dari
para ilmuwan menjadikan banyaknya perbedaan pengertian filsafat. Secara umum
filsafat secara Bahasa adalah gabungan antara Bahasa arab falsafah dan
bahsa inggris Pholosopy. Sedangkan secara singkat filsafat adalah alam
berfikir namun tidak semua berfikir adalah berfilsafat. Karena berfilsafat
adalah berfikir dengan sungguh-sungguh sampai ke akarnya dan dilakukan secara
sistematis
Secara istilah filsafat merupakan pandangan hidup, yaitu suatu cara pandang
seseorang tentang kehidupannya yang berdasarkan prinsip dan nilai tertentu.
Sebuah semboyan mengatakan nahwa setiap manusia adalah filsuf. Pendapat ini ada
benarnya Karena setiap manusia tentu berfikir. Tapi secara umum pendapat ini
kurang tepat Karena proses berfikir setiap manusia beragam, ada yang
bersungguh-sungguh guna mencari kebenaran dan adapula yang dangkal cara
berfikirnya.
Filsuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat sesuatu dengan serius dan
mendalam. Jelasnya, filsafat adalah ahil akal manusia tentang mencari dan
memikirkan kebenaran secara serius. Dengan kata lain, filsafat adalah ilmu yang
mempelajari dengan sunguh-sungguh tentang hakikat segala sesuatu
Berikut beberapa perbedaan poendapat
ilmuwan mengenai definisi filsafat:
1.
Plato (427 SM- 347SM) seorang filsuf termasyhur
asal Yunani murid Socrates dan guru Aristoteles mengemukakan bahwa filsafat
adalah pengetahuan tentang segalanya.
2.
Aristoteles (382SM-322SM) mengatakan filsafat
merupakan ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran didalamnya terkandung ilmu
metafisika, logika, etika, ekonomi, polotik dan estetika.
3.
Drs. H. Hasbulloh Bakry merumuskan ilmu filsafat
adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu secara mendalam mengenai ketuhanan
alam semesta dan manusia dan bagaimana cara mengetahui hakikat yang paling
mendasar sejauh mana akal manusia mampu melakukan dan bagaimana sikap
selanjutnya setelah mengetahui pemahaman tersebu
Manfaat Mempelajari Ilmu Filsafat
Menurut
Harold H. Titus, filsafat adalah upaya untuk memahami alam raya, makna dan
nilainya.
Dr. Oemar A.
Hosein mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengetahuan, dan filsafat
memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan pada keinginan manusia tentang
pengetahuan yang tersusun dengan tertib berkaitan dengan kebenaran[4].
Radhakrishnan
dalam bukunya, History of Philosophy menyebutkan: Tugas filsafat
bukanlah sekedar mencerminkan semangat masa ketika kita hidupi, melainkan
membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menerapkan nilai,
menerapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru.
Berbeda
dengan pendapat Soemadi Soejabrata, yaitu mempelajari filsafat adalah untuk
mempertajam pikiran maka H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup
diketahui, tetapi harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Berfilsafat
ialah berusaha menemukan kebenaran tentang segala sesuatu dengan menggunakan
pemikiran secara serius. Plato menghendaki kepala negara seharusnya filosuf.
Belajar filsafat merupakan salah satu bentuk latihan untuk memperoleh kemampuan
memecahkan masalah secara serius, menemukan akar persoalan yang terdalam,
menemukan sebab terakhir satu penampakkan.
Secara
kongkrit manfaat mempelajari filsafat adalah :
1.
Filsafat menolong dan
mendidik,
2. Filsafat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan
memecahkan persoalan-persoalan dalam hidup sehari-hari.
3.
Filsafat memberikan
pandangan yang luas
4.
Filsafat merupakan latihan
untuk berpikir sendiri
5.
Filsafat memberikan
dasar,-dasar, baik untuk hidup kita sendiri (terutama dalam etika) maupun untuk
ilmu-ilmu pengetahuan dan lainnya, seperti sosiologi, Ilmu jiwa, ilmu mendidik,
dan sebagainya.
Dari uraian
diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran
sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun Metafisika
(hakikat keaslian)
CABANG-CABANG FILSAFAT
- Metafisika
- Ontologi merupakan salah satu kajian filsafat yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).
- Antrpologi adalah ilmu/studi/kajian tentang manusia.Studi aspek fisik, budaya, dan perilaku manusia untuk mendapat pengertian tentang keragaman manusia.
- Theodicea.Theodicea sering juga disebut theologia, namun theologia sering digunakan untuk filsafat agama.
- Kosmologi atau filsafat alam berbicara tentang dunia. Cabang filsafat ini sangat tua. Ribuan tahun yang lalu, di Mesir dan Mesopotamia manusia sudah bertanya tentang asal alam semesta. Kosmologi berkembang sangat baik di Yunani dan memberi hidup kepada ilmu alam. Ilmu alam sudah lama berkembang dan dipilih sebagai model untuk banyak ilmu lain. Pertanyaan-pertanyaan dari filsafat alam itu misalnya soal evolusi, kebebasan dan determinisme, definisi materi, definisi energi, definisi hidup, dan soal-soal yang berhubungan dengan konsekuensi-konsekuensi etis dari kemajuan teknik.
- Epistomologi
- Metodologi.Metodologi berasal dari bahasa Yunani "metodos" dan "logos". Kata "metodos" terdiri dari dua suku kata yaitu "metha" yang berarti melalui atau melewati dan "hodos" yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. "Logos" artinya ilmu. Metodologi adalah ilmu-ilmu/cara yang digunakan untuk memperoleh kebenaran menggunakan penelusuran dengan tata cara tertentu dalam menemukan kebenaran, tergantung dari realitas yang sedang dikaji.
- Logika adalah cabang filsafat yang mempelajari aturan atau patokan yang harus ditaati agar orang dapat berfikir tepat,teliti,dan teratur untuk mencapai kebenaran. Logika (Yunani:logikos 'berhubungan dengan pengetahuan', 'berhubungan dengan bahasa') merupakan cabang filsafat yang menyelidiki kesehatan berpikir, aturan-aturan mana yang harus dihormati supaya pernyataan-pernyataan kita sah. Logika tidak mengajarkan apapun tentang manusia atau dunia. Logika hanyalah suatu teknik atau seni yang mementingkan segi formal.
- Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. - Etika
Kata etika berasal dari Yunani (ethos) yang berarti adat, cara bertindak, kebiasaan. Kata moral berasal dari Latin (mos) yang mempunyai arti yang sama.
Etika dibedakan dari semua cabang filsafat lain karena tidak mempermasalahkan keadaan manusia, melainkan bagaimana manusia harus bertindak. Tindakan manusia ditentukan oleh macam-macam norma (Latin: norma= siku). Norma-norma dapat dibagi atas norma sopan santun, norma hukum, dan norma moral. Norma yang paling penting untuk tindakan manusia, norma moral, datang dari "suara batin". Norma-norma ini merupakan bidang etika.
Plato dan Aristoteles sudah menyusun suatu etika. Filsuf-filsuf moral kenamaan lainnya antara lain Thomas Aquino, Hobbes, Hume, Kant, Dewey, Scheler, dan von Hildebrand. Beberapa yang termasuk etika seperti filsafat Cina, Hinduisme, dan Buddhisme terus menerus mementingkan jalan untuk mencapai kebahagiaan.
Dalam etika biasanya dibedakan antara etika deskriptif dan etika normatif. Etika deskriptif memberi gambaran dari gejala kesadaran moral (suara batin) dari norma-norma dan konsep-konsep etis. Etika normatif tidak berbicara tentang gejala-gejala, melainkan tentang apa yang sebenarnya harus merupakan tindakan kita. Dalam etika normatif, norma-norma dinilai dan sikap manusia ditentukan. - Estetika
Estetika dalam bahasa Yunani (aisthesis) yang artinya pengamatan adalah cabang filsafat yang berbicara tentang keindahan. Dalam pengalaman atas dunia sekeliling kita ditemukan suatu bidang yang disebut indah. Nah pengalaman akan keindahan merupakan objek dari estetika. Dalam estetika dicari hakikat dari keindahan, bentuk-bentuk pengalaman keindahan (seperti keindahan jasmani dan keindahan rohani, keindahan alam dan keindahan seni), dan diselidiki emosi-emosi manusia sebagai reaksi terhadap yang indah, agung, tragis, bagus, mengharukan, dan seterusnya.
Para filosof itu tergolong dalam
filosof alam. Para filosof alam tersebut tidak mempercayai cerita-cerita yang
demikian dan menganggapnya sebagai takhayul yang tidak masuk akal, karena
itulah mereka berusaha untik mendapatkan keterangan tentang inti dasar alam itu
dari daya pikirnya sendiri, maka mereka pantas mendapat sebutan sebagai pemikir
yang radikal karena pemikiran mereka sampai pada akar (radik=akar) dari alam
yang dipersoalkan
Hubungan
etika dengan filsafat
Etika
berasal dari bahasa Yunani Kuno yaitu “ethikos” yang berarti timbul dari
kebiasaan. Etika adalah sebuah sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama
filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai
standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisisdan penerapan konsep
seperti benar, salah, baik, buruk dan tanggungjawab. Etika sering diidentikan
dengan moral (moralitas), namun meskipun sama-sama terkait dengan baik-buruk
nya tindakan manusia, etika dan moral memiliki perbedaan pengertian. Moralitas
lebih condong pada pengertian nilai baik dan buruk dari setiap perbuatan
manusia itu sendiri. Sedangkan etika berarti ilmu yang mempelajari tentang baik
dan buruk. Jadi bisa dikatakan, etika berfungsi sebagai teori tentang perbuatan
baik dan buruk. Dalam filsafat terkadang atika disamakan dengan filsafat moral.
Dengan
demikian, jelaslah bahwa etika termasuk salah satu komponen dalam filsafat.
Banyak ilmu yang pada mulanya merupakan bagian dari filsafat, tetapi karena
ilmu tersebut kian meluas dan berkambang, akhirnya membentuk disiplin ilmu
tersendiri dan terlepas dari filsafat. Demikian juga etika, dalam proses
perkembangannya sekalipun masih diakui sebagai bagian dalam pembahasan
filsafat, ia merupakan ilmu yang mempunyai identitas sendiri. (Alfan: 2011)
Hubungan
etika dengan ilmu filsafat menurut Ibnu Sina seperti indera bersama, estimasi
dan rekoleksasi yang menolong jiwa manusia untuk memperoleh konsep-konsep dan
ide-ide dari alam sekelilingnya. Jika manusia telah mencapai kesempurnaan
sebelum ia berpisah dengan badan, maka ia selamanya akan berada dalam
kesenangan. Jika ia berpisah dengan badan dalam keadaan tidak sempurna, ia
selalu dipengaruhi hawa nafsu. Ia hidup dalam keadaan menyesal dan terkutuk
untuk selama-lamanya di akhirat.
Pemikiran
filsafat tentang jiwa yang dikemukakan Ibnu Sina memberi petunjuk dalam pemikiran
filsafat terhadap bahan-bahan atau sumber yang dapat dikembangkan lebih lanjut
menjadi konsep ilmu etika.
Ibn
Khaldun dalam melihat manusia mendasarkan pada asumsi-asumsi kemanusiaan yang
sebelumnya lewat pengetahuan yang ia peroleh dalam ajaran Islam. Ia melihat
sebagai mekhluk berpikir. Oleh karena itu, manusia mampu melahirkan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Sifat-sifat semacam ini tidak dimiliki oleh
makhluk-makhluk lainnya. Lewat kemampuan berfikirnya itu, manusia tidak hanya
membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh perhatian pada berbagai cara guna
memperoleh makna hidup. Proses-proses semacam ini melahirkan peradaban. Dalam
pemikiran ilmu, Ibn Khaldun tampak bahwa manusia adalah makhluk budaya yang
kesempurnaannya baru akan terwujud manakla ia berinteraksi dengan lingkungan
sosialnya. Ini menunjukan tentang perlunya pembinaan manusia, termasuk dalam
membina etika. Gambaran tentang manusia yang terdapat dalam pemikiran filosofis
itu akan memberikan masukan yang amat berguna dalam merancang dan merencanakan
tentang cara-cara membina manusia, memperlakukannya, dan berkomunikasi
dengannya. Dengan cara demikian akan tercipta pola hubungan yang dapat
dilakukan dalam menciptakan kehidupan yang aman dan damai (M. Yatimin Abdullah:
2006).
Etika
sebagai cabang filsafat dapat dipahami bahwa istilah yang digunakan untuk
memberikan batasan terhadap aktifitas manusia dengan nilai ketentuan baik atau
buruk. Etika memiliki objek yang sama dengan filsafat, yaitu sama-sama membahas
tentang perbuatan manusia. Filsafat sebagai pengetahuan berusaha mencari sebab
yang sedalam-dalamnya berdasarkan pikiran. (Yatimin: 2006) Jika ia
memikirkan pengetahuan jadilah ia filsafat ilmu, jika memikirkan etika jadilah
filsafat etika. (Ahmad Tafsir: 2005)
Sebelum lebih lanjut
membicarakan filsafat Islam, terlebih dulu perlu ditegaskan apa yang dimaksud
dengan filsafat Islam di sini. Filsafat
Islam dimaksudkan adalah filsafat dalam perspektif pemikiran orang Islam.
Seperti juga pendidikan Islam adalah dimaksudkan pendidikan dalam perspektif
orang Islam. Karena berdasarkan perspektif pemikiran orang, maka
kemungkinan keliru dan bertentangan satu sama lain adalah hal yang wajar. Filsafat berasal dari bahasa Yunani, philo
dan sophia. Philo berarti cinta dan sophia berarti kebijaksanaan atau kebenaran.
Sedang menurut istilah, filsafat diartikan sebagai upaya manusia untuk memahami
secara radikal dan integral serta sistematik mengenai Tuhan, alam semesta dan
manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya
sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu
seharusnya setelah mencapai pengetahuan tersebut. Harun Nasution
menggunakan istilah filsafat dengan “falsafat” atau “falsafah”. Karena
menurutnya, filsafat berasal dari kata Yunani, Philein dan Sophos.
Kemudian orang Arab menyesuaikan dengan bahasa mereka falsafah atau falsafat
dari akar kata falsafa-yufalsifu-falsafatan wa filsafan dengan
akar kata (wazan) fa’lala. Musa Asy’arie (2002:6) menjelaskan, bahwa hakikat filsafat Islam adalah
filsafat yang bercorak Islami, yang dalam bahasa Inggris dibahasakan menjadi Islamic
Philosophy, bukan the Philosophy of Islam yang berarti berpikir
tentang Islam. Dengan demikian, Filsafat Islam adalah berpikir bebas, radikal
(radix) yang berada pada taraf makna, yang mempunyai sifat, corak dan karakter
yang dapat memberikan keselamatan dan kedamaian hati. Dengan demikian, Filsafat
Islam tidak netral, melainkan memiliki keberpihakan (komitmen) kepada
keselamatan dan kedamaian (baca: Islam). Menurut Al-Farabi dalam kitabnya Tahshil as-Sa’adah,
filsafat berasal dari Keldania (Babilonia), kemudian pindah ke Mesir, lalu
pindah ke Yunani, Suryani dan akhirnya sampai ke Arab. Filsafat pindah ke
negeri Arab setelah datangnya Islam. Karena itu filsafat yang pindah ke negeri
Arab ini dinamakan filsafat Islam. Walaupun di kalangan para sejarawan banyak
yang berbeda pendapat dalam penamaan filsafat yang pindah ke Arab tersebut.
Namun kebanyakan di antara mereka menyimpulkan, bahwa filsafat yang pindah
tersebut adalah filsafat Islam (Al-Ahwani, 1984:2). Dalam perspektif Islam, filsafat merupakan
upaya untuk menjelaskan cara Allah menyampaikan kebenaran atau yang haq
dengan bahasa pemikiran yang rasional. Sebagaimana kata Al-Kindi (801-873M),
bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang hakikat hal-ihwal dalam batas-batas
kemungkinan manusia. Ibn Sina (980-1037M) juga mengatakan, bahwa filsafat
adalah menyempurnakan jiwa manusia melalui konseptualisasi hal ihwal dan
penimbangan kebenaran teoretis dan praktis dalam batas-batas kemampuan manusia.
Karena dalam ajaran Islam di antara nama-nama Allah juga terdapat
kebenaran, maka tidak terelakkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara
filsafat dan agama (C.A Qadir, 1989: 8). Pada zaman dulu di kalangan umat Islam, filsafat Islam merupakan kisah
perkembangan dan kemajuan ruh. Begitu pula mengenai ilmu pengetahuan Islam,
sebab menurut al-Qur’an seluruh fenomena alam ini merupakan petunjuk Allah,
sebagaimana diakui oleh Rosental, bahwa tujuan filsafat Islam adalah untuk
membuktikan kebenaran wahyu sebagai hukum Allah dan ketidakmampuan akal untuk
memahami Allah sepenuhnya, juga untuk menegaskan bahwa wahyu tidak bertentangan
dengan akal (C.A. Qadir, 1989: ix). Filsafat Islam jika dibandingkan dengan filsafat umum lainnya,
telah mempunyai ciri tersendiri sekalipun objeknya sama. Hal ini karena
filsafat Islam itu tunduk dan terikat oleh norma-norma Islam. Filsafat Islam
berpedoman pada ajaran Islam.
Untuk membuktikan adanya Allah, Islam menghendaki agar umatnya memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. Dan penciptaan tersebut tentu ada yang menciptakannya. Pemikiran yang demikian itu kemudian menimbulkan penyelidikan dengan pemikiran filsafat.
Para ahli mengakui bahwa bangsa Arab pada abad 8-12
tampil ke depan (maju) karena dua hal: pertama, karena pengaruh sinar
al-Qur’an yang memberi semangat terhadap kegiatan keilmuan, kedua,
karena pergumulannya dengan bangsa asing (Yunani), sehingga ilmu pengetahuan
atau filsafat mereka dapat diserap, serta terjadinya akulturasi budaya antar
mereka (Ghallab: 121). Agama Islam selalu menyeru dan mendorong umatnya untuk
senantiasa mencari dan menggali ilmu. Oleh karena itu ilmuwan pun mendapatka
perlakuan yang lebih dari Islam, yang berupa kehormatan dan kemuliaan.
al-Qur’an dan as-Sunnah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mengembangkan
ilmu serta menempatkan mereka pada posisi yang luhur Beberapa ayat petama yang
diwahyukan Muhammad s.a.w. menandaskan pentingnya membaca, menulis dan
belajar-mengajar. Allah menyeru: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan
Tuhanmulah yang paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (QS. Al-Alaq:
1-5). Sebagian ahli tafsir berpendapat, Al-Razi misalnya, bahwa yang dimaksud
dengan “iqra” dalam ayat pertama itu berarti “belajar” dan “iqra” yan kedua
berarti “mengajar”. Atau yang pertama berarti “bacalah dalam shalatmu” dan yang
kedua berarti “bacalah di luar shalatmu” (Binti Syathi’, 1968:20.
Bandingkan dengan Jawad Maghniyah 1968: 587, Abdul Halim Mahmud,
1979:55-56). Zamakhsyari berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan “qalam” adalah
“tulisan”. Karena tanpa tulisan semua ilmu tidak dapat dikodifikasikan, seandainya
tidak ada tulisan maka tidaklah tegak persoalan agama dan dunia (Mahmud,
1979:23 lihat juga Abu Hayan, tt.: 492). Dan tentang penciptaan alam,
al-Qur’an menjelaskan bahwa Malaikat pun diperintahkan untuk sujud kepada Adam
setelah Adam diajarkan nama-nama: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama
(benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Malikat dan berfirman:
‘Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu, jika kamu memang orang-orang yang
benar’. Mereka menjawab: ‘Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain
apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Engkau Yang Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana (QS. Al-Baqarah: 31-32).
Filsafat muncul dalam gelanggang pemerintahan Islam.
Rupanya sebelum itu filsafat merupakan sesuatu yang belum matang di kalangan
kaum muslimin. Dari abad ke-9 sampai abad ke-12 filsafat berkembang dengan
suburnya dalam khazanah ilmu pengetahuann dan masyarakat Islam. Masa ini adalah
masa perkembangan filsafat yang tiada taranya dalam dunia Islam. Dunia Islam
telah melahirkan ahli-ahli filsafat Islam yang banyak jumlahnya, bahkan ada
yang sampai diberi julukan sebagai “guru kedua” filsafat, yaitu Al-Farabi. Guru
pertamanya adalah Aristoteles, dan sampai saat ini belum ada guru ketiganya.
Demikianlah halnya, filsafat mengalami perkembangan yang pesat di dunia Islam
yaitu pada masa pemerintahan Abbasiyah. Akan tetapi pada abad ke- 12 secara
tiba-tiba perkembangan filsafat Islam terhenti, karena mendapat serangan dari
ahli-ahli agama. Banyak ahli-ahli filsafat dihukum sebagai orang-orang mulhid
(atheis), akibatnya pada akhir abad ke-12 menghilanglah filsafat dari
kebudayaan Islam. Buku-buku filsafat betapapun besar dan tinggi nilainya,
dibakar dalam perunggunan di musim dingin dan akhirnya pada abad ke 14. Tidak
seorangpun lagi dalam dunia Islam yang berani mempelajari filsafat, apalagi
menamakan dirinya sebagai filosuf. Sebab dengan demikian akan menyebabkan dia
dihukumi sebagai orang mulhid. Sejak itulah perkembangan filsafat di
dunia Islam menjadi tertinggal. Sementara dunia Barat yang pada mulanya
mempelajari filsafat dari orang-orang Islam mengalami kemajuan yang amat pesat
sampai saat ini. Demikianlah, filsafat Islam telah mengalami perkembangan yang
pesat dalam kurun waktu yang sangat lama, akan tetapi setelah mendapat serangan
dari ahli-ahli agama, filsafat Islam menjadi mandek. Kemandekan filsafat Islam
inilah yang dianggap oleh sebagian kalangan, yang menyebabkan tertinggalnya
umat Islam saat ini dari negara-negara Barat. V1. Gerakan Keilmuan Islam dan
Pengaruhnya Terhadap Renaissance Wahyu pertama yang turun (Q.S. Al-’Alaq
:1-5) itu --dan sejumlah hadis Nabi-- memiliki implikasi besar terhadap
perkembangan keilmuan pada masa-masa berikutnya. Sebagaimana yang dicatat oleh
Ahmad Amin (1969:141) bahwa pada awal timbulnya Islam, barulah tujuh belas
orang suku Quraisy yang pandai baca-tulis. Nabi juga menganjurkan para
pengikutnya untuk belajar membaca dan menulis. Aisyah, isterinya pun belajar
membaca. Anak angkatnya, Zaid bin Haritsah disuruh pula belajar tulisan Ibrani
dan Suryani. Para tawanan perang dibebaskan setelah mereka dapat mengajar
sepuluh orang muslim untuk membaca dan menulis (meski Nabi sendiri ummi,
tetapi ke-ummi-an beliau sangat beralasan untuk menolak anggapan, bahwa
al-Qur’an itu ciptaannya). Beberapa wahyu (nash) penting mengenai ilmu
telah menjadikan alasan bagi dukungan dan respon Islam terhadap ilmu
pengetahuan dan peradaban. Oleh sebab itu, tak heran jika tradisi keilmuan
dalam Islam lantas begitu subur dan semarak pada masa-masa berikutnya.
Demikianlah, gerakan melek huruf untuk pertama kalinya dilakukan Islam dalam
rangka pengamalan ilmu pengetahuan. Jika pada mulanya aktivitas keilmuan itu
hanya telaah agama yang lebih khusus, maka pada periode berikutnya menjadi
berkembang secara menyeluruh dan dalam skop yang lebih luas. Jika pada umumnya
kajian keislaman hanya terpusat pada al-Qur’an, al-Hadits, Kalam, Fiqh serta
ilmu gramatika bahasa (nahwu, sharaf, balaghah), maka pada periode berikutnya,
setelah kemenangan Islam ke berbagai wilayah, kajian itu berkembang dalam
berbagai disiplin ilmu: filsafat, kedokteran, astronomi, fisika dan ilmu-ilmu
sosial. Kenyataan ini bisa dibuktikan pada masa kegemilangannya, antara abad
8-15 Masehi, dari dinasti Abbasiyah (750-1258) hingga jatuhnya Granada (1492).
Perluasan wilayah Islam dimulai sejak khalifah Abu Bakar As-Shiddiq hingga
dinasti ‘Abbasiyah. Berturut-turut jatuh ke tangan Islam adalah, wilayah:
Damsyik (629), seluruh Syam dan Irak (673), Mesir hingga Maroko (645), Persi
(646), Samarkand (680) dan seluruh Andalusia (719). Satu abad kemudian (setelah
hijrah), negara Islam telah membentang dari teluk Biskaya di sebelah barat
hingga Turkestan (Tiongkok) dan India yang melebihi imperium Romawi pada puncak
kejayaannya (Poeradisastro, 1986: 8). Bahwa jauh sebelum umat Islam menaklukkan
wilayah Timur Dekat, Syria merupakan tempat bertemunya dua negara “super power”
waktu itu, Roma dan Persia. Bangsa Syria memang memiliki peran penting dalam
menyebarkan ilmu pengetahuan dan peradaban Yunani ke Timur dan Barat, terutama
kaum Monofisit¯ dan Nestorian¯.
Hanya saat itu ilmu pengetahuan (seperti kedokteran) tetap merupakan
pengetahuan sekuler dan dengan demikian kedudukannya lebih rendah daripada
pengobatan spiritual yang merupakan hak istimewa para pendeta ((lihat C.A.
Qadir, 1989:34-35). Sebagaimana kata De Boer (1961:13), bahwa berdasarkan
peraturan mazhab Nisibi, mulai tahun 590, kitab-kitab suci dilarang dibaca
dalam satu ruangan dengan buku-buku mengenai profesi keduniaan (sekuler). Di
pusat-pusat ilmu pengetahuan, seperti di Antokiah, Ephesus dan Iskandariah,
penterjemahan buku-buku Yunani ke dalam berbagai bahasa, terutama bahasa Syria
(Suryani) tetap dilakukan dan tetap memiliki pengaruh yang besar, bahkan
setelah pusat-pusat kota itu ditaklukkan oleh umat Islam. Ketika
pemikiran-pemikiran Yunani itu merasuk pada umat Kristiani dan mewarnai
pemikiran tokoh gereja, Nestorius, Uskup Constantinopel, maka serta merta
mendapat tantangan keras dari kaum konservatif dan ortodoks, sehingga pada tahun
481
Ilmuwan yang satu ini adalah seorang yang ahli
filsafat, astronomi, eksakta, musi dan sastra dari Andalusia. Namanya Abu Bakr
Muhammad ibn Yahya al-Sai’gh at-Tujibi as-Sarakusti. Masyarakat mengenalnya
dengan sebutan Ibnu Bajjah atau Ibnu Saligh. Sementara di Barat dan Latin, ia
dikenal sebagai Avemvace, Avenpacem juga Aben pace.
Namanya menjadi bermacam-macam disebabkan
kekurang-telitian beberapa penulis dalam menyalinnya ke dalam bahasa Latin.
Penyebab lain adalah sebagian Orientalis dalam melatinkan nama-nama, khususnya
nama para ahli ilmu berbangsa Arab.
Ia berasal dari keluarga al-Tujib. Ia lahir di
Saragossa Andalusia (Spanyol) pada tahun 1095 M atau abad ke-5 H. Ia wafat
tahun 533 H / 1138 M. Tidak banyak yang diketahui bagaimana masa mudanya, dan
siapa saja guru yang berjasa dalam membentuk sosok Ibnu Bajjah sehingga menjadi
seorang filsuf handal. Tapi menurut berbagai sumber, ia merampungkan jenjang
akademisnya di Saragosa, sebab ketika ia pergi ke Granada, ia telah menjadi
seorang sarjana bahasa dan sastra Arab yang ulung serta menguasai dua belas
macam ilmu pengetahuan.
Ibnu Bajjah terkenal sebagai salah seorang filsuf
muslim Arab terbesar dari Spanyol. Para ahli sejarah memandangnya sebagai orang
yang berpengetahuan luas dan mampu dalam berbagai ilmu.
Bahkan Ibnu Khaldun menyejajarkan namanya dengan
Ibnu Rusyd (Averous) di Barat, serta al-Farabi (Farabius) dan Ibnu Sina
(Avicenna) di Timur. Namun demikian, menurut Ibnu Khaldun, ia tercatat sebagai
salah seorang ahli eksakta, musikus, composer lagu-lagu pop dan penyair.
Ia adalah orang yang bersama dengan Ibnu Thufayl
(Abubacer) melontarakan kritik-kritiknya terhadap pendapat-pendapat Ptolemaios.
Dengan berdasarkan pada kosmologi Aristoteles, ia menetapkan suatu system yang
didasarkan semata-mata hanya pada siklus eksentrik. Al-Biruni atau Alpetragius
adalah salah seorang muridnya yang kemudian hari terkenal dengan teori gerak
spiral nya.
ontribusi Ibnu Bajjah pada filsafat, tulis Ibnu
al-Imam sungguh sangat mencengangan. Kontribusi itu mencakup sebuah parafrase
tentang fisika Aristoteles (Paraphase of Aristotle Physics), pokok-pokok
pikirian al-Farabi dalam logika, makalah politik berjudul The Conduct of The
Solitary (Arab: Tadbir al-Muthawahhid), dan Epistle on The Conjuction.
Beberapa karya Ibnu Bajjah adalah Filsafat
al-Wada’, berisi tentang ilmu pengobatan. Tardiyyan, berisi tentang syair
pujian. Kitab an-Nafs, berisi tentang catatan dan pendahuluan dalam bahasa
Arab. Tadbir al-Mutawahhid, rezim satu orang. Risalah-risalah Ibnu Bajjah yang berisi
tentang penjelasan atas risalah-risalah al-Farabi dalam masalah logika.
Meskipun singkat dan sering kurang tuntas, semua
tulisan Ibnu Bajjah tersebut menyajikan wawasan filosofis yang membuat
disanjung di satu kawasan, namun dicaci di kawasan lain. Sejak semula Ibnu
Bajjah memang menempatkan dirinya di tengah-tengah arus utama tradisi
Neoplatonik Peripatetik yang mula-mula diperkenalkan ke alam pikiran Islam oleh
al-Farabi. Hal ini tampak bahwa Ibnu Bajjah mempunyai perhatian yang besar
terhadap isu-isu etika dan politik, sebagaimana al-Farabi. Tidak seperti Ibnu
Sina yang cenderung mengesampingkan kedua hal tersebut.
Karya tulisnya relatif sedikit yang terdiri dari
beberapa risalah tentang logika, risalah tentang jiwa, risalah tentang ittishal
(hubungan akal manusia dengan Akal aktif), risalah al-Wada yang berisi uraian
tentang Penggerak Pertama dan tujuan sebenarnya bagi wujud manusia dan alam,
serta beberapa risalah tentang astronomi dan kedokteran, risalah Tadbir
al-Mutawahhid, dan beberapa risalah yang berisi ulasan terhadap sejumlah
buku-buku filosof Yunani.
Ajaran Filsafat Ibnu Bajjah
Manusia mampu berhubungan dan meleburkan diri
dengan akal fa’al atas bantuan ilmu dan pertumbuhan kekuasaan insaniah, bila ia
telah bersih dari kerendahan dan keburukan masyarakat. Masyarakat bisa
melumpuhkan daya kemampuan berpikir perseorangan dan menghalanginya untuk
mencapai kesempurnaan.
Pengetahuan yang didapatkan lewat akal, akan
membangun kepribadian seseorang. Akal mendapatkan obyek-obyek pengetahuan yang
disebut hal-hal yang dapat diserap dari unsur imajinatif, dan memberikan
sejumlah obyek pengetahuan lain kepada unsur imajinatif. Hal yang paling
mencengangkan pada unsur imajinatif adalah keterhubungan dengan wahyu dan
ramalan.
Ibnu Bajjah juga menandaskan bahwa Tuhan
memanifestasikan pengetahuan dan perbuatan kepada makhluk-makhlukNya. Metode
yang diajukan Ibnu Bajjah adalah perpaduan perasaan dan akal. Dalam masalah
pengetahuan fakta, ia mempergunakan metode rasional-empiris, tetapi mengenai
kebenaran akan keberadaan Tuhan ia mempergunakan filsafat. Kebenaran itu
sendiri dapat diperoleh manusia apabila manusia menyendiri (uzlah).
Menurut Ibnu Bajjah akal memiliki dua fungsi
yaitu memberikan imaji obyek yang akan diciptakan kepada unsur imajinasi dan
memiliki obyek yang dibuat di luar ruh dengan menggerakkan organ-organ tubuh.
Comments
Post a Comment